Jumat, 14 September 2012

TAHUN 5773 ( IVIM & AVAH )

Ayin Gimel 5773, Masehi 2013 & Puncak Penyesatan

Nampaknya bukan kebetulan apabila berdasarkan strong's concordance bahasa Ibrani menunjukkan bahwa angka 5773 merujuk kepada kata ivim atau avah yang artinya gangguan atau kekacauan (atas jiwa / pikiran seseorang). Kata ivim digunakan dalam sebuah ayat di Yesaya 19:14, "TUHAN telah mencurahkan di antara mereka suatu roh kekacauan, dan mereka memusingkan Mesir dalam segala usahanya, sehingga seperti seorang mabuk yang pusing waktu muntah-muntah." Jadi kekacauan yang dimaksud memiliki dampak yang begitu besar hingga banyak hal terjadi jauh di luar prediksi maupun perencanaan manusia, kejutan demi kejutan negatif akan terus menerus bergulir. 
Melihat tantangan di tahun berikutnya (Yahudi 5773 dan Masehi 2013), tidak kebetulan Tuhan mencanangkan Ayin Gimel bagi umat-Nya. Banyak yang berpikir bahwa Gimel itu sama dengan unta, padahal tidak demikian. Namun kata unta (yang dalam bahasa Inggris disebut camel) itu memang diambil atau senada dengan kata Gimel, sedangkan jika kita memperhatikan bentuk huruf Gimel itu menggambarkan seperti kaki yang melangkah namun ujung atasnya menghadap ke atas. Jadi yang Tuhan kehendaki untuk menghadapi tantangan di tahun depan adalah supaya kita terus melangkah, tidak berhenti dan sambil melihat kepada-Nya untuk mengatasi setiap gangguan dan penyesatan yang semakin memuncak. Terus melangkah bahkan terbang, tentu saja bukan seperti unta, namun sebagai rajawali-rajawali muda yang perkasa.
Puncak Penyesatan Si Ular Tua
Pertobatan terbesar (the great revival) harus terjadi sebelum Kedatangan Yang Ke-2, sama seperti pertobatan pertama terjadi sepuluh hari setelah Kenaikan Tuhan Yesus (saat Pentakosta, ketika Roh Kudus pertama kali dicurahkan). Demikian pula Puncak Penyesatan harus terjadi sebelum Akhir Zaman ini, sama seperti penyesatan pertama Si Ular Tua terhadap Hawa & Adam di Awal Zaman. Puncak Penyesatan ini untuk menguji umat-Nya sebagai Mempelai-Nya sebelum Pengangkatan itu terjadi. 
Apakah kita sanggup menghadapi Puncak Penyesatan nanti? Dan seperti apakah Puncak Penyesatan itu? Coba simak penjelasan berikut; Kristus disebut sebagai Adam ke-2 dan persamaan antara Kristus dengan Adam sebelum jatuh ke dalam dosa adalah bahwa keduanya memiliki tujuh Roh Allah yang lengkap dan sempurna. Kesempurnaan Adam saat itu menyebabkan Iblis tidak mau berhadapan langsung dengan Adam, melainkan dengan mendatangi Hawa dalam rupa ular.
Mengapa rupa ular yang dipakai? Kata Serafim dalam Yesaya 6:2, "Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang," memiliki arti ular terbang berapi (fiery flying snake). Keberadaan Serafim adalah semacam rombongan voorjider pembuka jalan sebelum seorang Presiden atau seorang pejabat tinggi datang. Jadi saat itu Hawa mengira bahwa Iblis dalam rupa ular adalah utusan yang mendahului Tuhan, pihak yang baik dan tanpa sadar Hawa menanggapi Iblis dan membuka celah. 
Tahun Ayin Gimel juga menandakan bahwa kita akan memasuki dari pemulihan kepada keutuhan, dari perjalanan di padang gurun masuk menuju Tanah Perjanjian. Dan saat kita memasuki Tanah Perjanjian, ada begitu banyak musuh yang harus ditaklukkan. Setelah menaklukkan Yerikho dan Ai, maka musuh yang ke-3 adalah Gibeon. Dan Gibeon yang secara fisik dan kekuatan jauh di bawah bangsa Israel, namun mereka menggunakan akal muslihat seperti ular untuk mengelabui umat Tuhan. "Tetapi ketika terdengar kepada penduduk negeri Gibeon apa yang dilakukan Yosua terhadap Yerikho dan Ai, maka merekapun bertindak dengan memakai akal: ... " - Yosua 9:3-4. Suara Roh Tuhan akan semakin lembut, namun pernyataan Iblis akan semakin nyata sehingga tipu muslihat Iblis begitu mudah dianggap sebagai kebenaran sedangkan peringatan Tuhan begitu sulit dipercaya karena kita cenderung untuk ingin mengerti terlebih dahulu untuk bisa percaya.

Jadi Puncak Penyesatan itu akan terjadi begitu halus, begitu masuk akal, hampir sulit untuk dibedakan kecuali kita terus perhadapkan segala perkara kepada Tuhan. Akan ada banyak berkat, banyak kesempatan untuk naik, banyak peluang yang kelihatan menjanjikan yang akan ditawarkan kepada kita, namun tidak semuanya itu adalah bagian kita. Mentalitas raja Uzia akan banyak terungkap dan akhirnya menjerat begitu banyak anak Tuhan karena merasa layak, merasa tinggi dan sebagainya sehingga lupa bahwa semuanya hanya karena anugerah. Orang-orang seperti Uzia inilah yang akhirnya berlaku fasik hingga melanggar covenant dengan Tuhan, yang menjadi sasaran empuk Si Penyesat hingga menjadi kecewa, menolak Tuhan dan murtad. "Dan orang-orang yang berlaku fasik terhadap Perjanjian akan dibujuknya sampai murtad dengan kata-kata licin; tetapi umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan akan bertindak." - Daniel 11:32.
2013, Yang Ke-13 & Ular
Berdasarkan strong's concordance bahasa Ibrani yang sama, angka 13 merujuk kepada kata obdan yang artinya kerusakan (destruction) atau kebinasaan (perish). Tahun depan adalah tahun yang ke-13 di awal Millenium ke-3 ini dan tidak kebetulan bahwa berdasarkan almanak penanggalan China, memasuki tanggal 10 Februari 2013 disebut sebagai Tahun Ular (Air) 4711. Sosok ular lagi-lagi muncul.

"Berfirmanlah Allah: 'Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun, dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi.' Dan jadilah demikian." - Kejadian 1:14-15. Selain matahari dan bulan, benda-benda penerang lainnya adalah (konstelasi) bintang. Dan ada fakta menarik berkenaan dengan konstelasi bintang ini; pada Januari 2011 seorang profesor astronomi bernama Parke Kunkle menjelaskan bahwa telah terjadi pergeseran poros bumi yang menyebabkan posisinya berbeda dengan posisi 3.000 tahun yang lampau sehingga susunan 12 konstelasi utama yang lebih dikenal dengan 12 zodiak (Virgo, Libra, Scorpius, Sagittarius hingga Leo) berubah menjadi 13 konstelasi. Dan zodiak atau konstelasi ke-13 itu adalah Ophiuchus yang dalam bahasa Yunani berarti Pembawa Ular (Serpent Bearer or Holder). Menurut sang profesor bahwa posisi Ophiuchus ada di antara Scorpius dan Sagittarius. Yang aneh adalah bahwa konstelasi Ophiuchus bukanlah konstelasi baru, konstelasi ini sudah ada sejak dahulu bersama dengan konstelasi-konstelasi lainnya, namun mengapa hanya pada tahun-tahun terakhir ini ide memasukkan konstelasi Ophiuchus muncul untuk digabungkan dengan 12 konstelasi lainnya? Sungguh tidak ada yang kebetulan.
Konstelasi Ophiuchus yang terdiri dari beberapa bintang, memiliki bintang utama (Alpha Ophiuchi) yang bernama Ras Alhague yang dalam bahasa Arab berarti Kepala dari Sang Pembawa Ular (The Head of The Serpent Bearer). Kepala merujuk kepada pikiran sebagai pusat medan pertempuran yang selalu menjadi sasaran dari usaha-usaha penyesatan Iblis - Si Ular Tua. 
Fakta menarik lainnya adalah bahwa konstelasi Ophiuchus terdiri dari dua konstelasi besar, yaitu konstelasi Ophiuchus yang mengacu kepada Sang Pembawa Ular dan konstelasi Serpent yang mengacu kepada ular itu sendiri. Jauh di dalam konstelasi Serpent terdapat nebula (awan antarbintang yang terdiri dari debu, gas, dan plasma) yang berbentuk rajawali, disebut juga Eagle Nebula. Nebula terbentuk ketika awan molekul yang sangat luas runtuh di bawah gaya gravitasinya sendiri. Bukankah akhir Juni 2012 lalu Tuhan telah melantik pasukan-Nya sebagai Pasukan Rajawali (Eagle Warriors)? Dapatkah kita memahami maksud Tuhan ini? Tidak lain sebagai persiapan untuk menghadapi berbagai perkara termasuk Puncak Penyesatan yang akan terjadi di tahun yang akan datang. Sekali lagi, tidak ada yang kebetulan bahwa pengaturan Tuhan nyata adanya. Bahkan dalam sebuah siklus rantai makanan, ular adalah salah satu mangsa dari rajawali.
"Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." - Roma 12:1-2
Penyebab utama ketika seorang percaya tidak dapat ikut dalam pengangkatan adalah karena tidak dapat membedakan mana yang dimaksud Allah dengan yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Padahal yang baik, belum tentu Tuhan berkenan, apalagi sampai menuju kesempurnaan yang sama seperti Bapa adalah sempurna. Mengapa tidak dapat membedakan? Karena tidak pernah melatih dan mempersembahkan tubuh yang adalah bait-Nya sebagai persembahan yang hidup. Dengan demikian orang tersebut hanya mampu membedakan yang baik dari yang yang jahat, sama seperti ketika Iblis memperdaya Hawa dengan buah dari Pohon Pengetahuan Yang Baik & Yang Jahat. Jadi terus menerus berdisiplin melatih tubuh, mempersembahkan tubuh dan menyalibkan daging adalah jalan satu-satunya untuk kita layak mengikuti Pengangkatan Gereja yang tidak lama lagi. 
Sekali lagi, Gimel berarti terus melangkah (sampai garis akhir) dengan kekuatan dan kemampuan yang dari Tuhan sambil mata (hati) kita tertuju kepada-Nya senantiasa.

Kamis, 13 September 2012

Menghadapi Musuh di Tahun Ayin Gimel

Memasuki tahun Ayin Gimel 5773 tanggal 16 September 2012 pukul 18.00 WIB nanti, kita akan berpindah dari zaman pemulihan untuk masuk kedalam zaman keutuhan, dari perjalanan di padang gurun menuju Tanah Perjanjian. Saat kita memasuki Tanah Perjanjian, ada begitu banyak musuh yang harus kita taklukkan. Setelah menaklukkan Yerikho dan Ai, maka musuh ke-3 adalah Gibeon (Yosua 9-11). Berikut ini berbagai hal yang perlu kita perhatikan dalam menghadapi Gibeon saat memasuki tahun Ayin Gimel dan tahun 2013 nanti:
  1. Dalam Yosua 9:3-4, iblis akan memakai banyak muslihat untuk memperdaya, menjebak, dan menyerang kita. Tidak seperti ketika menghadapi Yerikho dan Ai, maka Gibeon harus dihadapi dengan kerendahan hati yang lebih lagi, karena kemenangan-kemenangan pada peperangan yang terdahulu tidak serta merta menjamin kemenangan yang sama kali ini.
  2. Dalam Yosua 9:7, orang-orang Israel telah mencurigai orang-orang Hewi, namun karena penampilan mereka begitu meyakinkan, orang-orang Israel tetap tertipu. Pada tahun 2013, suara iblis akan terdengar lebih jelas, lebih nyata, dan lebih nyaring, karena iblis berbicara dengan menampilkan wujud dari perkara yang kita hadapi, sedangkan Roh Kudus akan tetap bersuara lembut. Tawaran demi tawaran yang kelihatan menjanjikan akan banyak berdatangan, bahkan walau hati kita sadar, namun kita dapat tertipu oleh penampilan musuh.
  3. Dalam Yosua 9:14, kewaspadaan kita hanya dapat diandalkan jika kita intim dan terus bergaul dengan Tuhan. Di saat kita terlalu berharap dan sebuah tawaran datang seperti atau bahkan lebih daripada yang kita harapkan, maka jangan pernah lupa untuk menghadapkan segala sesuatunya kepada Tuhan setiap saat.
  4. Dalam Yosua 9:18, kekecewaan terutama kepada para pemimpin merupakan isu yang tak terhindarkan. Sungguh dibutuhkan hati untuk dapat tetap mengasihi, tetap bersukacita, tetap rendah hati menghadapi hal-hal yang mengecewakan.
  5. Dalam Yosua 10:5, akan ada begitu banyak tugas dan pekerjaan yang harus diselesaikan secara serempak. Pasukan umat Tuhan dituntut semakin terlatih dan mampu untuk multitasking dalam anugerahNya.

Prepare for the year 5773

Prepare for the year 5773 Ayin Gimel ( Mempersiapkan Tahun 5773 )

Shalom, Keluarga Besar Revival Movement dan Eagle Thunder
sudah lama kita tidak berjumpa, tapi saya percaya bahwa anda semua masih dalam keadaan Bergairah untuk menggenapi setiap destiny yang Tuhan taruh atas hidup kita. 
waktu begitu cepat- tidak berasa kita sudah berada di pengakhir
tahun 5772 dan kita akan berpindah  pada bulan september nanti ke tahun 5773. Peralihan tahun di kalender YAHUDI bukan hanya perubahan angka tapi ada pesan khusus dari angka-angka tersebut. oleh sebab itu pada kali ini saya merangkum Khotbah bapa rohani kami ( Pap Yesaya Timothy Luke Saputra ) yang beliau sampaikan khusus mempersiapkan TAHUN YANG BEGITU LUAR BIASA ! oleh sebab itu silahkan  dinikmati 

"THE CAMEL IS COMING SOON " 
Halelluya , apa kabar semua penjaga pintu-pintu gerbang ? saya percaya bahwa anda sedang tidak berada didalam kelelahan karena anda sedang sangat EXCITED menunggu tahun baru dengan berkat yang baru !  sebelum memulai daripada khotbah saya mari dengan IMAN kita perkatakan Deklarasi Prophetic "Semua Keaiban dimasa lalu akan TUHAN ubah menjadi KENAMAAN ! ". 
saya begitu yakin bahwa perkataan PROPHETIC ini akan jadi atas hidup kita sebab memang ALLAH sedang meninggikan derajat hidup kita !
Langsung saja kepada topik utama kita,  kita tahu bahwa  TAHUN AYIN (577) itu berbicara MATA tapi tahun GIMEL (3) itu berbicara tentang UNTA, apa hubungan antara mata dengan unta ? 
oleh sebab supaya kita mengerti apa yang menjadi hubungan antara MATA dan UNTA kita akan menangkap pewahyuan yang dari Tuhan dan   mempersiapkan tahun yang luar biasa ini kita akan membuka apa yang TUHAN katakan di tahun UNTA ini 
  • KEJADIAN 24 : 64 
"Ribka juga melayangkan pandangnya dan ketika dilihatnya Ishak, turunlah ia dari UNTANYA
Unta di sebut pertama kali pada firman TUHAN diatas, yakni ketika Abraham meminta hambaNya Eliazer mencari seorang wanita untuk dipinang menjadi istri oleh ISHAK, dan pemilihan istrinya begitu Supernatural karena TUHAN yang mengaturnya. sehingga Ishak memilih Ribka bukan karena nafsu dan kedagingganya tetapi  karena TUHAN yang mempersatukan atau seringkali disebut dengan Divine Connection ! 
oleh sebab itu di tahun UNTA ini yang pertama TUHAN sedang berbicara bahwa DIA akan mengirimkan kepada kita orang-orang dan koneksi-koneksi baru yang akan menjadi sahabat,keluarga dan partner kita dalam menggenapi destiny kita. oleh sebab itu mulailah dengan IMAN perkatakan dan yakini bahwa di musim baru ini Tuhan akan memberikan koneksi dan partner baru yang sesuai untuk kita sehingga kita akan menggenapi destiny kita. dan untuk anda yang sedang menunggu datanganya pasangan yang sepadan buat anda percayalah bahwa JEHOVA JIREH sedang menyediakan si dia yang terbaik buat anda hahaha 

  • Yesaya 21 : 7
"Apabila dilihatnya pasukan, pasang-pasangan orang berkuda, pasukan keledai, pasukan UNTA, maka haruslah diperhatikannya sungguh-sungguh, dengan penuh perhatian."
dari Firman Tuhan diatas kita belajar bahwa di TAHUN UNTA ini ALLAH sedang mempersipakan PASUKANNYA supaya kita DIPERHATIKAN ! tahun ini memang menjadi TAHUN yang luar biasa tapi kita harus tahu bahwa PEPERANGAN BESAR akan segera dilakukan. Kita akan datang dan menyebu BABEL atau SISTEM dunia dan menggantikannya dengan SISTEM KERAJAAN ALLAH. jadi para gate keeper kerjaan anda belum selesai di tahun Ayin Gimel ini mari kita terus mempersiapkan PASUKAN untuk masuk kedalam medan peperangan 
  • Yesaya 60:6
"Sejumlah besar UNTA akan menutupi daerahmu, UNTA-UNTA muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur TUHAN."
Nabi Yesaya bernubuat , dan saya percaya bahwa NUBUATAN ini akan digenapi dengan segera karena ini adalah AKHIR ZAMAN dimana Firman Tuhan harus digenapi! dan dengan penuh IMAN saya katakan bahwa tahun Ayin Gimel Tuhan sedang mempersiapkan KELIMPAHAN buat anak-anaknya karena saya percaya UNTA yang TUHAN datangkan bukan kosong melompong tapi mereka akan datang dengan EMAS dan KEMENYAN 
EMAS itu berbicara tentang 2 hal menurut saya , yang pertama emas berbicara sebagai simbol dari KEKAYAAN karena kita tahu bahwa EMAS itu sangat mahal dan emas makin lama makin tinggi harganya oleh sebab itu di musim kali ini unta-unta itu akan datang dengan membawa KEKAYAAN jadi ,  yakinlah bahwa di MUSIM yang BARU ini engkau akan menjadi KAYA dan MEMPERKAYA banyak orang. tapi yang kedua EMAS artinya SATU nilai yang MENENTUKAN karena EMAS menentukan mata uang dunia yaitu Dollar. oleh sebab itu tahun ini TUHAN akan memberikan kita kuasa bukan hanya untuk MENAKLUKAN DUNIA tetapi untuk MENGUASAI DUNIA bagi kemuliaan ALAH ! apakah anda percaya dengan hal ini ? kalau anda percaya katakan AMEEEN !
selanjutnya setelah emas dibawa juga oleh unta itu adalah KEMENYAN, kemenyan ini berbicara tentang PENYEMBAHAN oleh sebab itu di AYIN GIMEL ini kita akan mulai menyembah TUHAN dalam ROH dan KEBENARAN , hidup kita akan menjadi wangi-wangian yang harum dan berkenan bagi Tuhan Yesus Kritus ! 
dan ketika EMAS serta KEMENYAN itu datang maka yang paling penting adalah NAMA TUHAN YESUS KRISTUS akan dipermuliakan dan kita akan melihat PENUAIAN SATU MILYAR JIWA TERJADI ! 
  • Yeremia 49:32
 "UNTA-UNTA mereka akan menjadi JARAHAN , dan ternak mereka yang banyak itu menjadi rampasan! Aku akan menyerakkan ke segala mata angin mereka yang berpotong tepi rambutnya berkeliling, dan dari segala penjuru Aku akan mendatangkan bencana atas mereka, demikianlah firman TUHAN. "

di firman TUHAN yang terakhir ini kita mengerti bahwa unta-unta juga berbicara JARAHAN, jarahan itu bukan HADIAH tapi RAMPASAN PERANG! oleh karena itu tegakan kepala kita mulailah sepakat dan sehati untuk kita setiap PASUKAN TUHAN masuk kedalam MEDAN PEPERANGAN dan menghancurkan setiap KUBU-KUBU si Iblis serta mengambil setiap JARAHAN yang sudah tersedia! ini bukan saatnya untuk kita lengah tapi ini saatnya untuk kita MENJARAH ! yang percaya teriakan "THIS IS MY APPOINTED TIME ! "

Firman Tuhan sudah menjawab pertanyaan kita tentang apa yang TUHAN maksudkan dengan UNTA, tapi apa hubungannya dengan MATA dan Unta ? saya percaya bahwa mata itu berbicara PANDANGAN HIDUP kita! oleh sebab itu jika kita mau mengalami TAHUN yang LUAR BIASA ini hati-hati dengan pandangan kita!
buat PANDANGAN kita untuk PERCAYA bahwa DIA ALLAH YANG BAIK dan INGIN MELIMPAHI KITA DENGAN KEBAIKAN tapi juga buat PANDANGAN KITA TERTUJU KEPADA TUHAN BUKAN KEKAYAANNYA ! 
 oleh sebab itu Pujilah Tuhan setiap PasukanNya, setiap Penjaga gerbang dan setiap umatNya karena unta-unta itu sedang on the way kedalam kehidupan kita  ! ( khotbah YTLS di Gate Keeper Gathering ) 
Bagaimana? apakah anda sudah siap untuk menyongsong tahun 5773, kalau anda belum siap jangan khawatir karena DIA pasti mempersiapkan kita dan membuat semuanya indah pada waktunya! sebelum saya tutup Bapa Rohani kami meminta untuk di Publish kali ini melepaskan suatu Prophetic Healing bagi pembaca yang memiliki SAKIT AKUT , dan jika anda orangnya mulai katakan "Didalam nama TUHAN YESUS,dan oleh DARAHNYA aku adalah CIPTAAN BARU sehingga setiap KELEMAHAN TUBUHKU semuanya dihapuskan dan DIGANTIKAN OLEH KEKUATAN DAN KESEHATAN YANG BARU ! " sekarang mulai rasakan dengan IMAN kesembuhan yang datang pada hidup anda ! 
dan jika  ada kesaksian yang ingin anda bagikan kami sangat menantikan di 
Email : thearkismoving@ymail.com 
FB : Eagle Thunder
Pages FB : Yesaya Timothy Luke Saputra
twitter :  @iyes_gunawan
cukup sekian, perjumpaan kita dikali ini, tetap semangat dan nantikan hal-hal ajaib yang sedang Dia sediakan, terimakasih atas kesetiaan dan perhatian keluar besar eagle thunder dan revival movement Tuhan Yesus Memberkati ! ( jcb-setiawan)

Waktunya Menyebrang

Waktunya Menyeberang

Oleh Doug Addison, 25 Agustus 2012
Pada tanggal 1 Agustus 2012, jam 5:55 pagi, saya mengalami kunjungan dari malaikat anugerah, dan ia berkata, "Inilah waktunya untuk menyeberang." Menyeberang ke sebuah dimensi spiritual yang baru, dimana penggenapan janji-janji-Nya mengalami akselerasi dengan jumlah persediaan yang lebih besar lagi.
"Tetapi negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, ialah negeri yang bergunung-gunung dan berlembah-lembah, yang mendapat air sebanyak hujan yang turun dari langit." - Ulangan 11:11
Pukul 5:55 pagi menandakan adanya anugerah ekstra karena Allah bergerak dengan cara yang kelihatan aneh dan tidak biasa pada umat-Nya. Kita akan melihat sebuah revival, namun tidak seperti yang kita pikirkan selama ini. Allah memanggil orang-orang yang tertolak dan terluka oleh keagamawian dengan anugerah yang luar biasa.
Bulan Agustus adalah bulan transisi. Adalah bulan terakhir dalam kalender Yahudi sebelum Rosh Hashanah. Agustus adalah bulan ke-8 dan angka 8 memiliki arti permulaan yang baru. Kita sedang bertransisi saat ini hingga 25 September 2012 (Yom Kippur 5773). Di antara sekarang hingga 25 September adalah waktu yang strategis untuk menggenapi segala sesuatu yang Allah tetapkan bagi kita. Setelah 25 September, Allah akan menyediakan penugasan yang baru, karunia-karunia, promosi-promosi yang akan mengawali kesepakatan atas kegerakan Kerajaan-Nya.
Pergunakanlah kekuatan, talenta maupun karunia yang kita miliki untuk membantu sesama kita dengan pimpinan Roh Kudus. Fokus dengan apa yang terbaik dari diri kita. Jika Anda masih belum mengetahui apa yang terbaik dari diri Anda, berdoa dan minta Allah singkapkan itu. Dan pertajamlah hal itu dari hari ke hari, dengan berdoa, membaca buku, mengikuti kelas dan sebagainya. Persiapan yang dilakukan seakan-akan kita hendak mengikuti sebuah pertandingan olimpiade.
"Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!" - 1 Korintus 9:24
Ini juga adalah waktu untuk berjaga dan bersyafaat. "Hai anak manusia, Aku telah menetapkan engkau menjadi penjaga kaum Israel. Bilamana engkau mendengarkan sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka atas nama-Ku." Yehezkiel 3:17. Jangan hanya berfokus kepada waktu penghakiman, inilah waktu untuk terus berjaga untuk menghentikan berbagai tragedi, melepaskan berbagai berkat serta memperoleh pewahyuan ilahi yang profetik dari Sorga. "Sungguh, Tuhan ALLAH tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para nabi." - Amos 3:7. Karena kepada umat-Nya, Allah akan mengungkapkan segala sesuatunya terlebih dahulu sebelum hal itu terjadi. Perolehlah berbagai strategi dan pewahyuan dalam beberapa bulan ini. 
Saya berdoa agar Allah mengungkapkan kepada Anda supaya menyeberang dengan mudah dan memperoleh berbagai keuntungan dalam masa yang baru ini untuk Allah memberkati Anda melakukan apa yang terbaik. Tuhan memberkati.
Terjemahan bebas dari: It's Time To Cross Over

Tahun Ayin Gimel

Ayin Gimel - 5773: Benefits

"Dari Daud. Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya (Benefits / Ghemool)! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat, Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali." - Mazmur 103:1-5
Meninggalkan tahun Ayin Beth 5772 dan memasuki tahun Ayin Gimel 5773 (16 September 2012 - 4 September 2013), kita diminta untuk mengingat segala kebaikan-Nya terlepas dari apapun masalah dan pergumulan yang sedang kita hadapi saat ini. 
Kebaikan-Nya - #1: Mengampuni bahkan segala kelemahan kita, sementara Iblis terus mendakwa kita.
Kebaikan-Nya - #2: Memulihkan / Menyembuhkan
Kebaikan-Nya - #3: Menebus segala hutang dosa
Kebaikan-Nya - #4: Memahkotai, mendandani, menjadikan indah
Kebaikan-Nya - #5: Memuaskan hasrat, baik kebutuhan maupun keinginan sesuai dengan pribadi masing-masing.
"Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia. Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah." - 1 Korintus 1:25-29
Inilah janji Tuhan kepada Gereja, bahwa kita dipilih hanya untuk menampilkan kemuliaan-Nya sehingga Allah terpandang di suluruh bumi.
"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (Benefits / Ghemool) bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." - Roma 8:28
Dan inilah jaminan bagi kita memasuki 5773 dan 2013 nanti. Haleluya!

Minggu, 11 Maret 2012

Rahasia 5 Roti dan 2 Ikan

Matius 14:13-21
Hari ini kita akan melanjutkan pembahasan kita tentang ajaran Yesus di dalam Matius pasal 14. Dari mukjizat memberi makan kepada 5000 orang tersebut, terdapat unsur penting dari ajaran ini yang perlu kita amati. Mari kita membaca Matius 14:13-21
Setelah Yesus mendengar berita itu (tentang penguburan Yohanes Pembaptis itu) menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa." Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan." (Kita akan pelajari ucapan ini sebentar lagi)
Jawab mereka: "Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan." Yesus berkata: "Bawalah ke mari kepada-Ku." Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.
Sebagian dari Anda yang telah cukup lama menjadi Kristen tentunya pernah mendengar khotbah tentang perikop ini. Ini adalah salah satu perikop yang menjadi favorit banyak penginjil. Istilah lima roti dan dua ikan ini menjadi semacam ungkapan khusus (metonymy), jika kita berkata, "Allah memberkati 'lima roti dan dua ikan' saya", maka yang dimaksudkan adalah sedikit karunia yang Allah berikan kepada saya bisa menjadi berkat bagi orang lain. Ide dasar yang selalu disampaikan adalah bahwa jika Anda persembahkan karunia kecil, kemampuan kecil, sedikit harta milik Anda itu kepada Allah, maka Tuhan akan memberkati karunia yang kecil itu sedemikian rupa sampai-sampai bisa memberi makan banyak orang. Ini memang sangat penting dan berharga. Tidak perlu diragukan lagi.
Sudahkah Anda mempersembahkan lima roti dan dua ikan Anda?
Akan tetapi, hal ini masih belum menjawab beberapa pertanyaan. Jika sebagian besar dari kita memiliki, setidaknya, sedikit karunia yang bisa diberkati dan dilipatgandakan oleh Allah, lalu mengapa Allah tidak memberkati 'lima roti dan dua ikan' milik Anda untuk memberkati orang di sekitar Anda? Apakah karena Anda tidak punya 'lima roti dan dua ikan' tersebut? Atau, jika Anda memang punya, lalu mengapa tidak digunakan untuk memberkati banyak orang? Mengapa Allah tidak memakai Anda? Itulah pertanyaan-nya, dan pertanyaan ini tampaknya tidak terjawab.
Apakah itu berarti bahwa Anda belum mempersembahkan 'lima roti dan dua ikan' milik Anda? Apa jawaban terhadap pertanyaan ini?
"Kamu harus memberi mereka makan": Apakah hal yang ingin Yesus ajarkan?
Ada satu unsur penting di dalam peristiwa mukjizat ini yang bersifat mendidik. Yesus ingin memakai mukjizat ini untuk mengajarkan sesuatu hal kepada para murid. Dan hal tersebut adalah poin di dalam ayat 16: Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan." Orang banyak itu sedang mengikuti Yesus, mendengarkan khotbah-Nya. Saat itu sudah senja; mereka lelah dan lapar. Dan para murid melakukan hal yang lazim. Mereka menyarankan kepada Yesus, "Suruhlah mereka pulang supaya mereka bisa beristirahat atau pergi ke desa-desa membeli sesuatu untuk dimakan, dan mereka boleh datang kembali esok hari."
Tetapi Yesus berkata, "Tidak, mereka tidak perlu pulang. Kamu harus memberi mereka makan." Nah, jika Yesus berkata, "Aku akan memberi mereka makan," tentunya tidak ada masalah. "Baiklah. Silahkan Kau beri mereka makan." Akan tetapi Yesus tidak berkata, "Aku akan memberi mereka makan," yang Dia katakan adalah, "Kamu harus memberi mereka makan."
Saya yakin, jika mereka membawa sapu tangan, para murid saat itu sudah pasti akan menyeka dahi mereka yang mulai bercucuran keringat, sambil memandang ke arah kerumunan orang-orang itu: 5000 laki-laki, ditambah dengan perempuan dan anak-anak! Tentunya mereka berpikir, "Ada berapa ribu orang jumlah mereka? Kami harus memberi mereka makan? Yesus, Engkau pasti bercanda, bukankah begitu? Kecuali kami punya beberapa gerobak makanan, bagaimana mungkin kami bisa memberi makan kerumunan orang ini?" Inilah hal yang saya katakan bersifat mendidik [didactic]. Yesus ingin mengajarkan sesuatu kepada mereka.
Persoalannya adalah: apa yang ingin Dia ajarkan kepada mereka? Tentu saja Yesus tahu bahwa mereka tidak akan bisa memberi makan 5000 orang ditambah perempuan dan anak-anak itu. Bahkan perempuan dan anak-anak juga memerlukan takaran makan yang tidak sedikit, bukankah begitu? Dengan jumlah kerumunan sebanyak itu, dengan cara apa Anda akan memberi mereka makan? Yesus jelas tahu bahwa mereka tidak bisa melakukannya, lantas apa gunanya menjadikan mereka sebagai pusat perhatian saat itu? Itulah persoalannya: Hal apakah yang ingin Yesus ajarkan? Persoalan inilah yang akan kita bahas.
Ini bukan masalah tentang Yesus yang bisa memberkati lima roti dan dua ikan itu. Tentang hal itu, orang bisa saja berkhotbah tanpa akhir. Tentu saja, Allah mampu melipatgandakan lima roti dan dua ikan. Akan tetapi bukan itu pokok yang mau disampaikan.  
Yang ingin disampaikan adalah: dengan cara apa Yesus ingin agar para murid-Nya memberi mereka makan? Itulah hal mau Dia lakukan. Dia berkata, "Kamu harus memberi mereka makan," perhatikan baik-baik ucapan-Nya, "Kamu harus memberi mereka makan."
Apakah Dia sedang mempersulit para murid? Atau, adakah sesuatu yang ingin Dia ajarkan? Saya yakin, para murid ini, setelah dijadikan sebagai pusat perhatian, tidak akan pernah melupakan pelajaran yang mereka dapatkan, di saat mereka menatap ke arah kerumunan orang itu dan menggaruk kepala mereka sambil berkata, "Kita akan mengerjakannya dengan apa?"
Di sini ada satu pelajaran yang sangat penting dan berharga. Menurut Anda, pelajaran apakah yang ingin disampaikan oleh Yesus kepada para murid-Nya? Jika Anda adalah para murid-Nya dan Yesus menatap ke arah dunia sekarang ini dan berkata kepada kita semua, "Kamu harus memberi mereka makan," hal yang memang sedang Dia katakan kepada kita sekarang ini, apakah yang akan Anda katakan? Inilah poin yang dimaksudkan.
Anda mungkin akan berkata, "Yesus, aku tidak punya apa-apa yang bisa diberikan kepada mereka. Kau tahu bahwa aku tidak punya karunia, talenta, tak bisa berkhotbah, tak bisa mengerjakan ini atau itu, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana mungkin Engkau menyuruhku untuk memberi mereka makan?"
Renungkanlah hal ini baik-baik: menurut Anda, apakah Yesus hanya berbelas kasihan kepada kerumunan orang-orang yang itu saja? Apakah rombongan tersebut lebih baik daripada kumpulan orang-orang yang lain? Apakah kumpulan orang-orang itu lebih menyedihkan keadaannya daripada kumpulan orang-orang yang lain? Jelas tidak. Mereka adalah kumpulan orang-orang yang sama saja dengan kumpulan orang yang lainnya.
Lantas, jika Dia berbelas kasihan kepada orang-orang tersebut, apakah Dia tidak akan berbelas kasihan kepada kumpulan orang-orang yang lainnya sekarang ini? Atau, apakah Dia hanya berbelas kasihan kepada orang-orang di abad pertama tetapi tidak terhadap orang-oarang di abad ke-20? Dan jika Dia ternyata juga berbelas kasihan kepada orang-orang di zaman sekarang ini, apakah Anda akan berpikir bahwa Dia tidak akan berkata kepada Anda dan saya, "Aku kasihan kepada mereka. Kamu harus memberi mereka makan."
Tidakkah Anda melihat bahwa pelajaran yang sedang disampaikan oleh Yesus kepada para murid-Nya itu juga tertuju secara langsung kepada kita? Yesus yang sama, dengan belas kasihan yang sama kepada semua kumpulan orang-orang yang kekurangan, dan berbicara kepada murid-murid-Nya. Kita ini juga murid-murid-Nya, dan di dalam pengertian itu, kita sama dengan mereka.
Dan Dia akan mengucapkan hal yang sama kepada kita, "Kamu harus memberi mereka makan." Dan saya akan menjawab, "Dengan cara apa saya bisa memberi mereka makan?" Inilah poin penting yang harus kita pegang. Kita harus pahami pelajaran yang ingin Dia sampaikan kepada ke-12 orang murid-Nya, pelajaran yang akan Dia sampaikan kepada kita juga sekarang ini. Apa kunci untuk memahami semua ini?
Yesus ingin mengajarkan para murid untuk memiliki belas kasihan atas kebutuhan orang lain
Perhatikan sekali lagi ayat 14. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka.
...tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Mari kita lihat kata 'belas kasihan' ini. Dia berbelas kasihan. Dia memberi makan 5000 orang itu bukan karena Dia ingin memamerkan kuasa-Nya yang sangat besar. Alkitab memberitahu kita bahwa Dia memberi makan 5000 orang itu hanya demi satu alasan: Dia berbelas kasihan. Dia tidak ingin melihat anak-anak menangis kelaparan, atau perut orang dewasa melilit karena kelaparan juga. Dia berbelas kasihan; dia merasa tersenuth oleh kebutuhan mereka. Sungguh luar biasa! Dia merasakan, bersimpati, tersentuh oleh kebutuhan kita!
Kata 'belas kasihan' ini diterjemahkan dari kata Yunani yang, di dalam Perjanjian Baru, dipakai dalam hal yang berkenaan dengan Yesus saja. Tidak dipakai di bagian yang lain.  Hanya digunakan berkenaan dengan Yesus, untuk menggambarkan-Nya sebagai suatu Pribadi yang memiliki belas kasihan.
Bagaimana pemakaian kata 'belas kasihan' ini di dalam bahasa Yunani?
Kita akan mempelajari bagaimana kata ini dipakai di dalam bahasa Yunani. Kata yang diterjemahkan dengan 'belas kasihan' ini berasal dari kata yang memiliki makna isi perut, bukan kata yang terdengar sopan. Dan malahan, terjemahan Authorized Version kadang kala menerjemahkan kata ini dengan kata 'bowels (isi perut)': "bowels of compassion".
Kata ini di dalam bahasa sumbernya memang memiliki arti isi perut. Kata 'isi perut' tidak sekadar menunjuk pada alat pencernaan saja, melainkan menunjuk kepada seluruh organ yang terdapat di dalam badan kita. Nah, mungkin kedengarannya kurang begitu halus akan tetapi bukan itu yang penting.
Anda tahu bahwa seluruh bagian dalam tubuh kita sering dihubungkan dengan jenis-jenis perasaan tertentu. Kita sering berkata, "Hati kita tersentuh" Secara jasmani, hati adalah organ tubuh yang bekerja membersihkan racun dari makanan dan membantu pembentukan darah. Akan tetapi saat kita memakai kata 'hati', kata ini kemudian mendapatkan makna kiasannya dan dihubungkan dengan jenis perasaan tertentu pada diri Anda. Jadi, di saat Anda mengatakan 'hati', kata ini tidak Anda maksudkan untuk menunjuk kepada organ tubuh Anda yang sedang bekerja membersihkan racun di dalam tubuh dan membantu pembentukan darah, walaupun itu adalah makna aslinya, melainkan untuk menunjukkkan perasaan Anda.  Itulah makna yang dimaksudkan oleh kata Yunani ini. 
Namun, bukannya menunjukkan satu organ tubuh tertentu, kata Yunani tersebut justru menunjuk isi perut secara keseluruhan, dan makna kiasan untuk kata ini adalah belas kasihan. Kata ini mau menekankan bahwa belas kasihan adalah semacam perasaan yang tidak muncul di permukaan saja, tidak dangkal. Perasaan ini tidak bisa dikaitkan dengan kulit atau rambut Anda, yang berada di sisi luar, karena perasaan ini muncul jauh di dalam. Di dalam bahasa Inggris, ada istilah 'gut feeling'. Kata 'gut' berarti perut dan istilah 'gut feeling' berarti perasaan yang terdalam dari diri Anda terhadap seseorang atau satu pribadi. Jadi, kata Yunani yang bermakna 'isi perut' ini dipakai untuk menekankan perasaan kasih, kepedulian dan simpati yang paling dalam: belas kasihan. Belas kasihan itu muncul dari dalam diri Anda.
Malahan, di sejumlah tempat, kata ini juga dipakai untuk menunjuk kepada hidup kita. Di dalam salah satu kitab apokrif, yaitu kitab Barukh; Barukh 2:17 berbicara tentang isi perut/bowels yang menjadi tempat kedudukan pneuma (roh) Anda. Dengan kata lain, hidup itu berpijak di dalam perut Anda.
Di bagian-bagian yang lainnya, kata ini dipakai untuk mengungkapkan perasaan ibu pada anaknya. Mungkin juga perasaan ayah terhadap anaknya. Perasaan orang tua terhadap anak mereka terungkap lewat kata 'belas kasihan' atau isi perut ini. Makna yang sangat berharga. Dan sangatlah penting untuk bisa memahami pokok tentang belas kasihan ini; karena hanya dengan pemahaman itu baru kita bisa menjadi aliran air hidup, baru Allah bisa menjadikan kita sumber saluran berkat bagi orang lain. Semuanya itu terkait dengan pemahaman kita tentang kata 'belas kasihan' ini.
Di dalam 2 Makabe, sebuah apokrif juga, kata ini dipakai untuk mengungkapkan perasaan seorang ibu kepada anak-anaknya yang dihukum mati karena iman mereka. Kasih dari ibu ini kepada anak-anaknya terungkap lewat kata 'belas kasihan' ini, saat ia menyaksikan anak-anaknya disiksa sampai mati, satu demi satu. Kitab ini berbicara tentang belas kasihannya kepada anak-anaknya, simpatinya yang tak terkirakan di saat dia menyaksikan mereka menderita ketika disiksa sampai mati demi iman mereka. Dapatkah Anda memahami perasaan seorang ibu yang menyaksikan anaknya dihukum mati? Jika Anda bisa memahaminya, maka Anda bisa mengerti makna kata 'belas kasihan' ini. Sangat sulit bagi kita untuk bisa memahaminya, bukankah begitu?
Perasaan semacam inilah yang dimiliki oleh Yesus kepada kerumunan orang banyak itu. Dapatkah Anda memahaminya? Inilah belas kasihan dari seorang ayah atau ibu kepada sang anak. Saat Dia menatap ke arah orang banyak itu dan melihat mereka kelaparan, Dia berbelas kasihan pada mereka. Ini adalah kata dengan makna yang sangat kuat. Sangat susah digambarkan jika Anda belum mengalami perasaan ini.
Yesus mengajarkan: "Jika kamu bisa merasakan hal yang sama dengan yang Aku rasakan, berilah mereka makan."
Nah, selanjutnya, apakah hal yang ingin Yesus ajarkan kepada para murid-Nya di dalam ayat 16 ini? Dia berbelas kasihan kepada mereka, Yesus berkata kepada mereka: "..., kamu harus memberi mereka makan." Lucu, jika Dia berbelas kasihan kepada mereka, seharusnya Dialah yang memberi mereka makan, tetapi Dia malah menyuruh murid-murid-Nya memberi mereka makan. Justru inilah poin yang ingin Dia ajarkan kepada mereka.
Dapatkah Anda memahami apa yang sedang Dia sampaikan? Dia sedang berkata, "Aku ingin agar kalian tahu apa yang Kurasakan tentang mereka. Aku ingin agar kalian ikut merasakan dorongan hati-Ku untuk memberi mereka makan. Aku ingin kalian ikut berbelas kasihan pada orang banyak ini. Aku ingin agar kalian peduli pada orang banyak ini. Kamu harus memberi mereka makan. Milikilah belas kasihan ini, jangan Aku saja yang memilikinya. Tapi bisakah kamu merasakan bekas kasihan-Ku kepada mereka? Kalau kamu bisa merasakan belas kasihan-Ku kepada mereka, maka kamu harus memberi mereka makan."
Nah di sini, kita sedang menyinggung pokok yang paling dasar di dalam kehidupan Kristen. Kapan Anda pernah merasa berbelas kasihan kepada orang banyak? Pernahkah Anda berbelas kasihan kepada orang banyak? Jika Anda seperti saya, saya meragukannya, saya akui kepada Anda bahwa saat saya baru menjadi orang Kristen, saya tidak punya belas kasihan kepada orang banyak. Saya tidak berbelas kasihan kepada satu orang pun, apalagi kepada orang banyak.
Belas kasihan bukan perasaan yang secara alami ada di dalam diri kita karena kasih tidak secara alami ada di dalam diri kita. Kita hanya peduli pada diri kita sendiri karena kita dibesarkan untuk mengurusi diri kita sendiri saja. Kapan Anda pernah meratapi orang yang tidak Anda kenal? Kapan Anda pernah melihat penderitaan orang lain dan merasa tersentuh pada penderitaan orang itu? Untuk bisa merasa tersentuh pada kebutuhan orang banyak, Anda harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Tanpa pikiran Kristus, tanpa Roh Kristus, Anda tidak akan pernah tersentuh oleh belas kasihan pada orang banyak, dan mungkin pada siapapun.
Banyak yang akan binasa secara kekal: Apakah Anda peduli?
Anda tahu, kami di China telah begitu banyak melihat penderitaan, dan hati kami telah dikeraskan oleh karena begitu banyaknya penderitaan yang telah kami lihat. Kami tidak merasakannya. Jika Anda belum terbiasa melihat pengemis di jalanan, Anda mungkin akan tersentuh oleh pemandangan itu, tetapi kami tidak. Kami sudah terbiasa melihat pengemis. Di Shanghai, ada begitu banyak pengemis - di sana-sini ada pengemis, di setiap sudut jalan ada pengemis. Anda tidak merasa tersentuh lagi pada kebutuhan mereka. Anda tidak merasakan apa-apa. Hati Anda dikeraskan. Anda bisa saja melangkah [dengan tenang] melewati kumpulan pengemis, kurus, ringkih, kotor, merangkak sambil dikerubungi nyamuk dan lalat. Anda tidak merasakan apa-apa! Kita belum memiliki belas kasihan. Hati kita sudah dikeraskan oleh begitu banyaknya penderitaan dan kekurangan. Justru di sanalah letak persoalannya. Kita tidak tersentuh sebagaimana Kristus tersentuh.
Izinkan saya mengingatkan Anda, di Palestina pada zaman itu terdapat banyak sekali pengemis di mana-mana. Jika Anda pergi ke Bait Allah dan orang-orang pergi bersembahyang di Bait Allah setiap harinya, Anda tidak akan bisa mencapai Bait Allah tanpa menembus kerumunan pengemis di pintu gerbang. Di sekitar pintu gerbang itulah para pengemis menunggu orang yang akan pergi ke Bait Allah. Jadi jika Anda tinggal di Palestina pada zaman itu, Anda akan menjadi sama seperti kami yang tinggal di China beberapa puluh tahun yang lalu, menjadi terbiasa dengan adanya pengemis. Kami saat itu tidak tersentuh sama sekali.
Tentu saja, beberapa orang Eropa yang tidak pernah melihat pengemis sebelumnya, ketika mereka datang ke China, mulanya mereka sangat terkejut melihat kemiskinan dan kemelaratan para pengemis di sana. Mereka sampai merasa mual, bukan oleh belas kasihan tetapi oleh rasa jijik. Mungkin ada sedikit belas kasihan di sana, namun saya tidak yakin seberapa besar belas kasihan itu, yang jelas adalah rasa terkejut yang amat sangat melihat penderitaan semacam itu. Namun, beberapa waktu kemudian, mereka juga akan terbiasa, mereka tidak merasakannya lagi, dan belas kasihan itu lenyap. Inilah persoalan yang melanda kita.
Saya pernah berbicara dengan seorang teman yang menjadi Kristen, dan dia berkata, "Ada satu hal yang sangat mengusik saya. Tampaknya saya tidak merasa berbelas kasihan kepada mereka yang akan binasa di luar sana, dan kenyataan ini sangat mengusik saya. Saya tahu bahwa saya harus berbelas kasihan. Saya seharusnya prihatin bahwa mereka akan binasa selamanya, masuk ke dalam kebinasaan yang kekal, akan tetapi saya tidak berbelas kasihan pada mereka." Apakah Anda merasa berbelas kasihan? Apakah Anda merasa sedih melihat orang-orang itu akan binasa? Dan sementara waktu terus berlalu, orang-orang itu akan mati dan terhilang? Oh, Anda berkata, "Kami sudah sering dengar para penginjil mendramatisir perkara ini dan berusaha menggugah perasaan kami."
Nah, Anda tidak perlu mendramatisir perkara ini. Namun fakta tetaplah fakta. Mereka akan terhilang. Apakah hal ini menggugah diri kita? Apakah Anda tiba-tiba mendapati bahwa ternyata Anda tidak memiliki belas kasihan? Anda tidak menguatirkan hal itu. Anda tidak merasa terusik. Jujur saja. Hal itu tidak mengusik perasaan Anda.
Dan tadinya hal itu juga tidak mengusik perasaan saya. Kemudian, saya menyadari bahwa saya ini tidak memiliki belas kasihan; hal itu tidak mengusik hati saya. Kita masih belum menjadi seperti Kristus. Kenyataan ini mengusik hati-Nya. Jika tidak, mungkinkah Dia turun meninggalkan kemuliaan-Nya? Maukah Dia pergi ke Kalvari? Maukah Dia dipaku di kayu salib demi kita? Jika Dia tidak berbelas kasihan, akan masuk kemana kita ini? Dan jika kenyataan itu tidak mengusik hati kita, mau masuk kemana orang-orang di dunia ini? Haruskah Yesus mengirim para malaikat-Nya untuk membawa mereka masuk ke dalam keselamatan karena tampaknya kita ini tidak terharu pada kebutuhan mereka?
Jika Allah ingin memakai kita, Dia harus menjadikan kita orang yang berbelas kasihan
Jangan membayangkan yang terlalu jauh dulu. Mari kita renungkan saudara dan saudari di gereja yang kekurangan. Apakah Anda tidak merasa tergugah melihat mereka mengalami kesulitan keuangan? Selama Anda tidak tahu persoalan tersebut, Anda tidak peduli. Siapa peduli? Apakah hal itu mengusik hati Anda? Apakah penderitaan orang lain mengusik hati Anda? Nah, jika Anda adalah seorang perawat atau dokter, Anda mungkin sudah begitu terbiasa melihat orang lain menderita. Anda telah melihat mereka setiap hari, tetapi Anda tidak bisa terlibat secara emosional dengan orang-orang. Dan para perawat biasanya diperingatkan, saat pertama kali menjalani pelatihan, untuk tidak melibatkan perasaan. Perawat-perawat yang baru masuk akan sangat menderita! Ada banyak perawat baru di gereja kita ini. Dan saya tahu, dari kesaksian mereka, betapa menderitanya mereka ketika pertama kali masuk kerja. Mereka merasa sangat menderita melihat orang-orang yang sedang sekarat. Namun sejalan dengan waktu, mereka menjadi terbiasa melihat begitu banyak orang menderita. Masihkah mereka merasakannya? Mungkin tidak terlalu terasa lagi, atau mungkin malah tidak sama sekali.
Mungkin pada waktu pertama kali Anda menyaksikan pembedahan dan melihat darah, Anda jatuh pingsan! Namun sekarang, Anda bisa melihat darah mengalir begitu saja, ada apa ini? Anda mungkin memandangnya sama seperti jus tomat. Anda menjadi terbiasa melihatnya. Dengan kata lain, perasaan kita sudah melakukan penyesuaian. Kita belajar untuk menyesuaikan dan mengeraskan perasaan kita. Namun bagaimana mungkin hal tentang akan terhilangnya orang-orang itu tidak mengusik hati kita sama sekali? Atau, jika Anda percaya bahwa mereka akan binasa, mengapa hal itu tidak mengusik perasaan Anda? Mengapa perasaan saya tidak terusik?
Ketidaksabaran, satu aspek dari ketiadaan belas kasihan
Nah, kita tidak perlu berpikir terlalu jauh. Jika saya mengamati diri saya sendiri - saya tidak berkhotbah untuk Anda, tetapi mengkhotbahi diri saya. Yang pertama, dan yang paling, saya kecam adalah diri saya sendiri, saya menyatakan hal ini dengan jujur kepada Anda, saudara-saudariku. Saya merasa jijik dengan diri saya atas kurangnya belas kasihan ini. Tadi malam, saya sedang merenungkan tentang diri saya, menguji diri saya di hadapan Tuhan dan membiarkan Roh Allah memeriksa saya. Dan yang bisa saya rasakan hanyalah kejijikan terhadap diri saya ini karena kurangnya belas kasihan itu.
Tentu saja, jika kita bandingkan diri kita dengan orang-orang yang paling keras hatinya, kita bisa berkata bahwa kita lebih berbelas kasihan daripada mereka. Akan tetapi saya tidak mau membandingkan diri saya dengan orang yang sangat dikeraskan hatinya, saya membandingkan diri saya dengan Yesus, karena tujuan saya adalah menjadi serupa dengan Dia. Itulah rencana Allah buat saya, menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya. Dan ketika saya membandingkan diri saya dengan Dia, saya nyaris putus asa. Begitu sedikit belas kasihan saya!
Mungkin karena di masa lalu saya, ambisi saya adalah menjadi pemimpin militer. Seorang prajurit tak boleh terganggu oleh perasaan. Dia tak boleh mengijinkan perasaan mengendalikannya. Anda tidak boleh ragu di saat menarik pelatuk untuk menembak mati orang lain. Itu adalah bagian dari tugas Anda.
Namun poinnya adalah: jika Anda telah membangun kekerasan hati semacam ini, dan Anda tahu bahwa jika Anda harus menjalani kehidupan di tengah masyarakat yang keras, maka Anda akan berjuang untuk bertahan hidup. Anda harus menjadi keras; Anda menjadi tidak berperasaan.
Dan saya [tadi malam] merenungkan tentang diri saya. Saya merenungkan tentang ketidaksabaran saya. Persoalan yang satu ini sangat mengusik hati saya. Hal ini menunjukkan satu gejala di dalam diri saya. Saya tidak tahu bagaimana dengan Anda, akan tetapi saya adalah orang yang sangat tidak sabar. Saya harus bergumul dengan ketidaksabaran ini setiap saat. Saya akan gambarkan apa yang saya maksudkan. Saya sampaikan kesaksian ini kepada Anda dalam rasa malu pada diri saya sendiri. Dan lagi pula, Kitab Suci menyuruh kita untuk mengakui dosa-dosa kita antar satu dengan yang lain supaya kita dipulihkan.
Saya mengakui dosa-dosa saya. Saya tidak berpura-pura tampil lebih baik daripada orang lain. Jika saya berdoa bersama orang lain, dan orang itu berdoa sangat lambat, saya beritahu Anda, saya menjadi sangat tidak sabar, dan nyaris merasa jengkel. Memang ada orang yang memiliki kebiasaan untuk berdoa dengan sangat lambat. Memerlukan waktu sampai dua menit bagi mereka untuk mengeluarkan kata yang kedua, dan dua menit lagi untuk kata yang ketiga, dan pada saat itu, saya sudah benar-benar jengkel. Saya membatin, "Pada saat orang ini selesai dengan satu doa, saya sudah selesai dengan tiga, empat, atau lima doa! Kamu memboroskan waktu saya. Selesaikan doamu. Berapa lama waktu yang kau perlukan untuk memikirkan kalimat yang berikutnya?" Sekarang Anda bisa melihat seperti apa saya ini. Sungguh memalukan! Ketidaksabaran saya sangat menjijikkan!
Atau, misalnya, ada sebagian orang yang memang terbiasa berbicara sangat perlahan dan hal ini akan membuat saya tidak sabar. Saya berpikir, "Cepat selesaikan bicaramu! Apakah kau ingin agar aku menunggu di sini seharian sampai kau selesai menyampaikan ucapanmu?" Watak saya memang tidak sabaran. Saya cenderung berbicara dengan cepat. Saya cenderung bekerja dengan cepat. Dan kesabaran saya akan menipis jika melihat orang yang bekerja dengan lambat, entah mengerjakan sesuatu dengan tangan ataupun dengan mulutnya atau apapun itu. Saya orang yang sangat tidak sabaran. Dan perlu saya katakan, kadang kala kelambatan orang lain malah sampai membuat saya marah.
Lalu datanglah [pertanyaan ini] ke [benak] saya, "Mengapa kamu seperti ini?" Jika orang lain itu lambat, dan memang secara alami dia itu lambat, tidakkah seharusnya kamu memahami orang itu? Kita diciptakan berbeda-beda. Kita cenderung berfungsi secara berbeda-beda. Bukan karena saya bekerja lebih cepat lalu diartikan bahwa saya lebih baik daripada orang lain. Itu hanya keadaan alamiah saya saja. Bahkan sekarang ini, saya harus belajar untuk mengurangi kecepatan saya di saat berbicara. Dan hal ini sangat mengganggu saya. Sikap hati yang egois, angkuh dan tidak sabaran ini sangat mengusik hati saya. Saya tidak punya belas kasihan. Sekarang ini, dengan kasih karunia Allah, mungkin saya sudah sedikit lebih baik. Namun saya masih tidak sabaran. Saya memang tidak punya kesabaran.
Contoh lagi, saya bahkan lebih tidak sabar lagi terhadap orang-orang yang terus saja berkata bahwa mereka sedang tidak sehat, sakit di sana-sini. Saya hanya berkata [kepada mereka], "Nah, mungkin kamu sekadar bermanja-manja saja. Bangkitkan semangatmu. Yang diperlukan oleh orang-orang semacam ini adalah sedikit paksaan untuk bangkit dan tidak bermalas-malasan. Apa itu sakit di sana-sini? Siapa yang mau peduli dengan urusan semacam ini?"
Jadi, Allah harus menangani saya. Sampai dengan sekarang pun Dia masih membenahi saya, agar saya bisa belajar untuk lebih berbelas kasihan, lebih berperasaan. Saya sering sampaikan bahwa mempelajari bidang kedokteran adalah satu hal yang tak pernah terlintas di benak saya. Saya tidak berminat pada bidang kedokteran; saya tidak tertarik mengurusi orang sakit. Jika Anda belajar kedokteran, maka Anda akan curahkan hidup Anda untuk mengurusi orang sakit. Saya tidak punya belas kasihan terhadap orang sakit. Kedokteran adalah bidang yang tidak pernah menarik minat saya. Saya tidak pernah mempertimbangkannya. Jadi, Yesus harus membenahi saya, meremukkan saya. Dia harus menangani saya, membenahi saya lewat berbagai cara. Namun, saya akui kepada Anda, masih jauh jalan yang harus saya tempuh. Ya Tuhan, ampunilah saya!
Kata 'belas kasihan' yang dipakai dalam hubungan dengan Yesus ini muncul lima kali
Mengapa saya begitu prihatin akan hal ini? Karena jika Allah ingin memakai kita, pertama-tama Dia harus menjadikan kita berbelas kasihan. "Kamu harus memberi mereka makan." Itulah yang dimaksudkan. Saat saya meneliti hal ini, saya melihat apa yang sedang Yesus ajarkan kepada murid-murid-Nya. Para murid-Nya tidak memiliki belas kasihan yang lebih besar daripada kita semua. Yesus harus mengajarkan belas kasihan kepada mereka.
Kata 'belas kasihan (dari kata Yunani yang berarti isi perut ini)' dipakai sebanyak lima kali dalam kaitannya dengan Yesus:
1. Matius 9:36
Kata ini dipakai di dalam Matius 9:36, yang menyebutkan Yesus Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.
Saya akan tanyakan Anda sesuatu, pernahkah Anda melihat kerumunan penonton sepak bola? Atau pernahkah Anda melihat kerumunan orang banyak? Saya sering berada di tengah kerumunan orang banyak, dan bagi Anda yang berasal dari kota besar, tentu terbiasa melihat kerumunan orang banyak. Namun pernahkah Anda merasa, saat Anda melihat orang banyak itu, bahwa mereka seperti domba yang tidak bergembala? Apakah hal ini pernah menyentuh hati Anda? Hal itu tidak pernah menyentuh hati saya. Saya akui kepada Anda, hal itu tidak pernah menyentuh hati saya, setidaknya sampai dengan baru-baru ini.
Apakah yang Anda rasakan ketika Anda melihat orang banyak? Nah, reaksi saya kecenderungan untuk ingin meninggalkan kerumunan orang banyak yang tidak tertib itu. Apa yang bisa dihasilkan oleh orang banyak biasanya hanyalah kebisingan dan debu dan hal-hal yang semacam itu. Apa yang Anda ingin lakukan saat berada di dalam kerumuman orang banyak? Anda ingin menyingkir dari tempat itu. Mengapa Anda ingin pergi berlibur? Karena Anda ingin pergi ke tempat yang tenang untuk menyingkir dari orang banyak. Namun ketika Yesus melihat orang banyak itu, hati-Nya tergerak pada mereka. Betapa Allah ingin menjadikan kita seperti ini! Betapa rindu Yesus ingin mengubah kita sehingga ketika melihat orang banyak, kita tidak akan berpikir, "Oh, biang ribut!" Sebaliknya, kita melihat mereka dan berkata, "Kemana mereka akan pergi? Mereka ini domba tanpa gembala! Mereka akan terhilang! Mereka akan binasa!" Dapatkah kita merasakannya? Kita tidak bisa, bukankah begitu? Terasa sangat berat. Bukan hal yang secara alami ada di dalam perasaan kita.
2. Matius 14:14
Kali kedua penggunaan kata 'belas kasihan' ini adalah di dalam peristiwa pemberian makan kepada 5000 orang (Matius 14:14) dan 4000 orang (Matius 15:32). Kembali lagi, bukan saja Dia tersentuh oleh fakta bahwa kerumunan orang itu sedang berada di jalur menuju kebinasaan, tetapi Dia juga terharu pada kebutuhan jasmani mereka. Mereka tidak punya makanan. Hal itu menyentuh hati-Nya. Mungkin kita bisa tersentuh pada kebutuhan rohani mereka, namun apakah kita tersentuh oleh kebutuhan jasmani mereka? Saya ragu akan hal itu.
3. Markus 1:41
Yang ketiga kalinya, kata ini digunakan di dalam Markus 1:41 di mana Yesus berbelas kasihan kepada penderita kusta. Pernahkah Anda melihat penderita kusta? Ia terlihat sangat menjijikkan. Sebagian dari kita pernah mengunjungi Leper Colony (Pemukiman Penderita Kusta) di Hong Kong. Saya juga pernah ke sana dan menemui para penderita kusta di Leper Colony. Jika Anda pernah berkunjung ke pemukiman tersebut, pernahkah Anda amati reaksi pertama Anda? Reaksi pertama saya ketika melihat orang tanpa hidung, tangan yang buntung, dan segala macam bilur dan koreng, adalah sangat tidak nyaman. Anda merasa mual melihat orang dengan daging yang membusuk di wajahnya. Anda merasa pening. Apakah Anda merasakan belas kasihan? Saya tidak merasakannya. Jika Anda merasakannya, berarti Anda jauh lebih baik daripada saya. Yesus menatap penderita kusta yang dagingnya membusuk itu, dan Dia berbelas kasihan. Dia bahkan menjamah penderita kusta itu. Dia berkata, "Aku mau, jadilah engkau tahir."
4. Matius 20:34
Peristiwa keempat di mana Dia berbelas kasihan adalah saat menangani dua orang buta. Matius 20:34. Pernahkah Anda bertemu dengan orang buta? Kita banyak bertemu dengan orang buta di belahan timur ini. Dan kembali lagi, rasa terkejut dan tidak nyaman yang muncul saat Anda melihat bola mata mereka yang putih itu.
5. Lukas 7:11
Kejadian kelima di mana Dia berbelas kasihan adalah dalam peristiwa janda dari Nain yang ditinggal mati oleh anaknya, di dalam Lukas 7:11. Di saat Anda berbicara dengan orang yang ditinggal mati oleh anak atau suami atau istrinya, pernahkah Anda merasa malu karena Anda tidak tahu harus berbicara apa? Anda menjadi gagap karena canggung, bukan karena berbelas kasihan. Anda sedang merenungkan tentang diri Anda sendiri, bukannya memikirkan mereka. Anda tidak tahu bagaimana bersikap dalam kaitannya dengan orang itu. Anda tidak tahu apa yang harus Anda katakan.
Itulah poin keseluruhannya. Mengapa kita tidak memiliki belas kasihan, adalah karena kita memikirkan diri, perasaan dan reaksi kita sendiri saja. Kita tidak memikirkan tentang orang yang bersangkutan berikut kebutuhannya, dan juga penderitaannya. Kalau saja kita bisa melupakan diri ini dan menaruh perasaan kepada orang lain. Anda lihat, mengapa kita, setidaknya, sebagian dari kita, tidak menyukai kerumunan orang banyak, adalah karena kita tidak suka dengan kebisingan. Kita tidak suka tergencet. Kita tidak suka terdorong kesana kemari. Kita memikirkan diri kita sendiri. Tentu saja, kita tidak akan suka dengan kerumunan orang banyak jika kita memikirkan diri sendiri saja. Kalau saja kita bisa melupakan diri ini, keadaan terdorong ke sana kemari, kepanasan, kerumunan orang banyak, seandainya saja kita bisa dibebaskan dari diri ini, dan mulai memikirkan mereka.
Itulah faktor kunci yang ingin Yesus ajarkan kepada murid-murid-Nya. Dia tahu bahwa mereka tidak memiliki belas kasihan. Dia tahu bahwa mereka telah terbiasa melihat orang buta, pengemis dan orang yang kelaparan. Sama seperti kita, mereka sudah terbiasa melihat hal ini. Namun Dia mengubah mereka sehingga kekerasan hati mereka bisa disingkirkan, dan mereka bisa merasakan kebutuhan orang lain, mereka bisa berbagi rasa dengan orang banyak.
Berbelas kasihan bukan berarti menjadi sentimental
Perhatikanlah, Yesus tidak sedang bersentimentil. Berbelas kasihan tidak berarti menjadi sentimental. Keduanya adalah hal yang berbeda. Anda bisa saja menjadi sentimental terhadap sesuatu hal untuk sesaat, namun sentimentalitas itu memiliki satu ciri yang menyolok yaitu berlangsung sesaat, ia akan berlalu. Di sisi lain, belas kasihan akan semakin mendalam sejalan dengan berlalunya waktu. Mungkin kadang-kadang, Anda menonton film dan ketika Anda melihat ada penderitaan di dalam film itu, apa yang terjadi? Air mata Anda menetes. Mengapa Anda menangis? Jika Anda bertanya pada diri Anda, apakah ini belas kasihan? Sepertinya bukan. Yang sedang Anda pikirkan adalah bagaimana jika hal itu terjadi pada diri Anda? Anda tidak sedang memikirkan orang yang bersangkutan.
Sentimentalitas itu berarti Anda sedang menempatkan perasaan orang yang bersangkutan pada situasi yang sedang Anda hadapi: bagaimana jika hal itu terjadi pada saya? Dan Anda tidak menangis untuk orang tersebut, melainkan bagi diri Anda sendiri, seandainya hal itu terjadi pada diri Anda. Bukankah begitu? Yang saya alami adalah seperti itu. Kadang kala di saat saya menonton film, saya memang menangis. Dan saya tahu bahwa itu hanyalah sentimentalitas karena bersumber dari keegoisan. Yang saya pikirkan saat itu adalah: bagaimana jika anak perempuan saya yang mati, dan saya menangis. Saya tidak memedulikan dia yang sedang kehilangan anaknya itu. Yang saya pikirkan adalah bagaimana jika saya yang kehilangan anak perempuan saya, itu sebabnya saya menangis. Atau, jika Anda melihat seseorang yang sedang menderita dan Anda lalu menangis, itu karena Anda berpikir: seandainya dia itu aku, sungguh mengerikan keadaaannya, lalu Anda menangis. Anda sedang memikirkan [seperti apa] penderitaan Anda. Itulah sentimentalitas. Itu bukanlah belas kasihan. Belas kasihan terjadi jika Anda melupakan diri Anda, perasaan Anda, dan Anda memikirkan mereka, di saat Anda tidak menangisi diri Anda melainkan menangisi mereka. Kapan Anda pernah menangisi orang lain?
Apa yang harus terjadi sebelum Allah bisa memberkati dan memakai 'lima roti dan dua ikan' kita?
Itulah alasan mengapa Anda akan bisa memahami jawaban atas pertanyaan saya di bagian awal khotbah ini. Jika Allah tidak memberkati lima roti dan dua ikan milik Anda, dan memakainya untuk memberi makan orang banyak, apakah itu karena Anda tidak punya lima roti dan dua ikan itu? Atau karena Anda tidak bersedia mempersembahkan lima roti dan dua ikan itu? Anda berkata, "Tidak, aku bersedia mempersembahkannya." Lalu mengapa Dia tidak memberkati lima roti dan dua ikan Anda itu? Jawabannya sederhana: sebelum Dia bisa memakai kita, Dia harus membuat kita berpikir seperti Dia. Sang nabi berkata, "Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?"
Bagaimana bisa Yesus menjalankan kuasa-Nya bekerja melalui kita jika kita bahkan tidak memiliki perasaan yang Dia miliki terhadap umat-Nya? Kita akan menjadi penghalang bagi aliran kuasa itu. Kita akan menjadi penyumbat. Sumber airnya ada akan tetapi salurannya tertutup. Hal yang akan membuka keran itu, yang akan membuka diri kita terhadap orang lain, adalah belas kasihan di dalam diri kita. Jika kita sudah terbuka, kuasa itu akan segera mengalir. Tidakkah Anda berpikir bahwa Yesus sudah tahu kalau para murid-Nya tidak akan bisa memberi makan 5000 orang itu? Jelas Dia tahu itu.
Lalu apa persoalannya? Persoalannya bukan pada kemampuan Dia di dalam memberi makan 5000 orang itu. Dia ingin memberi makan 5000 orang itu melalui para murid. Oleh karena itu, belas kasihan di dalam diri mereka harus ada terlebih dahulu supaya belas kasihan-Nya bisa mengalir melalui belas kasihan mereka, kepada 5000 orang itu. Dapatkah Anda memahami maksud saya?
Sekarang ini, air hidup itu sudah tersedia. Sumber air keselamatan dari Allah tersedia melimpah (Anda bisa pakai gambaran semacam ini), akan tetapi mengapa orang-orang di luar sana tidak bisa mendapatkannya? Karena Anda dan saya sedang tersumbat, bukankah begitu?
Jika kita tidak tersumbat, maka air hidup itu akan mengalir kepada mereka. Tetapi air itu sekarang tidak mengalir kepada mereka. Apakah karena sumber airnya tidak ada? Anda tahu bahwa sumber airnya ada. Lalu mengapa airnya tidak sampai kepada mereka? Karena Anda dan saya sedang tersumbat. Semua keran sedang tertutup, jadi dari mana orang-orang itu bisa mendapatkan air?
Kita hanya perlu menjadi keran airnya. Kita tidak perlu menjadi sumber air itu. Yesus adalah sumber air itu. Allah di dalam kasih karunia-Nya yang luar biasa itu sudah tersedia bagi orang banyak, akan tetapi kita sedang tersumbat. Akibatnya, orang-orang itu tidak mendapatkan air Itulah pokok yang ingin diajarkan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya.
Dia sedang berkata kepada murid-murid-Nya, "Mengertikah kamu bahwa Aku tidak akan selalu berada di sini untuk menangani kebutuhan orang banyak ini? Akan tetapi kamu akan selalu ada. Kamu harus melanjutkan pekerjaan ini. Kamu harus memberi mereka makan. Aku akan pergi ke kayu salib. Aku akan membuka gerbang surga bagi orang banyak ini. Aku akan mengalirkan air hidup dari Bait Surgawi. Aku tidak akan ada di sini lagi, akan tetapi kamu akan tetap di sini. Kamu harus memberi mereka air hidup. Kamu harus memberi mereka roti hidup. Siapa yang akan memberi mereka jika bukan kamu?"
Hal yang sama juga berlaku sekarang ini. Keselamatan Allah sudah tersedia. Sudah ada untuk memberi makan orang-orang yang kelaparan di luar sana. Namun apakah Anda melihat apa yang terjadi? Keselamatan itu macet di tangan Anda. Macet di tangan saya. Allah tidak menghendaki hal itu! Akibatnya, apakah yang mereka dapatkan? Tidak ada yang mereka dapatkan karena kita tidak memberi apa-apa kepada mereka. Apa yang kita katakan kepada mereka? Kita berkata, "Tuhan, hari sudah larut. Suruhlah mereka pulang. Mereka boleh pergi dan membeli sendiri makanan buat mereka. Biarlah mereka cari sendiri jalan untuk memenuhi kebutuhan mereka."
Bukankah itu yang sedang kita ucapkan sekarang ini? Kita berkata, "Biarkan saja mereka. Mereka bisa mencari pemenuhan kebutuhan mereka di tempat lain. Ada banyak gereja di luar sana yang mengajarkan berbagai agama. Jika mereka memerlukan agama, mereka bisa pergi ke gereja mana saja dan mendapatkannya. Jika mereka tidak pergi mencari, itu salah mereka sendiri." Bukankah begitu cara kita berpikir? Dan oleh sebab itu, kita tidak berbelas kasihan.
Kita tidak mau peduli. Airnya berhenti mengalir di sini. Tentu, Allah bisa melipatgandakan 'lima roti dan dua ikan' milik Anda, karunia Anda yang sedikit itu, akan tetapi tidak ada sesuatu pun hal yang terjadi karena kita tidak peduli dan tidak memiliki belas kasihan. Dan di akhir hidup Anda, ke - 'lima roti dan dua ikan' itu tetap tinggal di dalam diri Anda.
Satu mina yang telah Tuhan berikan kepada Anda itu, akan Anda kembalikan kepada Tuhan sambil berkata, "Tuhan, Engkau telah memberiku satu mina, ini dia. Engkau bisa mengambilnya lagi. Aku menyimpannya dengan rapi di sapu tangan ini," seperti yang telah kita pelajari di dalam perumpamaan yang terakhir di dalam Lukas. Saya mohon kiranya kita dapat memahami apa yang sedang Yesus ajarkan kepada murid-murid-Nya ini. Dia juga ingin mengajarkan hal ini kepada kita.
Saat saya renungkan bahwa di belakang saya sedang menunggu air hidup yang berlimpah, air hidup kekal, Allah melarang saya untuk menjadi keran yang tertutup sehingga air itu tidak menjangkau orang lain. Saya memiliki air itu di dalam diri saya. Ia tersedia, akan tetapi ia tidak bisa menjangkau orang lain. Dan saya melihat orang-orang Kristen yang membual dengan berkata, "Kau tahu, aku diselamatkan. Yay! Aku memiliki Roh Kudus di dalam diri ini. Aku memiliki air hidup yang kekal."
Memang, saluran itu memang terisi air, namun apakah air di dalam saluran itu hanya diperuntukkan bagi saluran itu saja, supaya dia bisa membual tentang air yang dimilikinya? Bukankah saluran itu ada di sana untuk menyalurkan air, menjadi saluran air bagi orang lain?
Kita dibesarkan dalam doktrin tentang keselamatan yang pada dasarnya mengajarkan kita untuk menikmati keselamatan kita sendiri: Anda saja yang diselamatkan. Berkenaan dengan keselamatan orang lain, tampaknya Anda harus menerima panggilan khusus untuk itu. Tampaknya, untuk memberitakan Injil kepada orang lain, Anda haus menerima panggilan khusus dari atas.
Panggilan macam apa yang kita perlukan? Panggilan macam apa yang Anda perlukan? Satu-satunya panggilan adalah panggilan untuk berbelas kasihan. Jika Anda memang memiliki belas kasihan, Anda tidak akan berkata, "Aku menunggu panggilan khusus." Panggilan macam apa yang Anda perlukan? Panggilan yang sudah diberikan adalah bahwa kita harus berbelas kasihan kepada orang banyak yang akan binasa.
Kita diselamatkan untuk mengerjakan satu tugas di dunia ini: menjadi aliran air hidup
Dan sebagai penutup, saya ingin beralih ke satu ayat di dalam Yohanes 7:38. Mari kita baca dari ayat 37: Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup."
Yesus berkata, "Jika engkau percaya kepada-Ku, dari dalam hatimu akan mengalir aliran air hidup." Nah, kata yang diterjemahkan dengan hati ini adalah kata yang bermakna isi perut, sama seperti kata 'belas kasihan'. Dan inilah alasan mengapa saya masukkan ayat ini ke dalam pembahasan.
Kata Yunani yang digunakan berbeda, akan tetapi keduanya memiliki arti yang sama. Dan terjemahan Authorized Version menerjemahkan dengan, "out of your belly will come rivers of living water (dari perutmu akan mengalir aliran-aliran air hidup)." Terjemahan itu tepat. Kata yang digunakan memang 'belly (perut)', 'bagian dari diri yang terdalam'. Dan kata ini adalah sinonim (persamaan kata) dari kata yang diterjemahkan dengan 'belas kasihan'.
Dan saya menghubungkan kedua kata itu karena alasan di atas. Saat Yesus berkata, "Barangsiapa percaya kepada-Ku," yang Dia maksudkan adalah setiap orang Kristen. Dia tidak menyebutkan pendeta atau penginjil, melainkan, "Barangsiapa percaya kepada-Ku, dari dalam hatinya, dari tempat belas kasihannya, akan mengalir aliran-aliran, bukan hanya beberapa aliran atau beberapa tetes, tetapi aliran-aliran air hidup." Ini berlaku untuk setiap orang Kristen, bukan sekadar penginjil tetapi setiap orang Kristen, "Yang percaya kepada-Ku."
Dan kalimat ini bukan sekadar mengatakan bahwa kita diselamatkan supaya kita bisa pergi ke surga, tetapi kita diselamatkan untuk menjalankan satu fungsi di sini dan sekarang juga. Saya harap Anda mengerti akan hal ini: kita diselamatkan bukan sekedar supaya kita bisa pergi ke surga. Kita diselamatkan untuk menjalankan satu pekerjaan di dunia ini. Pekerjaan apakah itu? Menjadi aliran-aliran air hidup.
Mengapa orang Kristen tidak menjadi aliran-aliran air hidup?
Inilah alasan mengapa saya membahas perikop ini sekarang. Mengapa orang Kristen tidak menjadi aliran-aliran air hidup? Apakah Anda telah berfungsi sebagai pancuran air hidup? Jika tidak, kita bisa ajukan salah satu dari dua macam pertanyaan. Pertanyaan yang pertama adalah: Apakah Anda ini orang Kristen? Kalimat itu mengatakan, "Barangsiapa percaya kepada-Ku", dan itu berarti setiap orang Kristen. Jadi, apakah Anda ini orang Kristen?
Jika Anda ini orang Kristen, maka pertanyaan yang kedua adalah: Mengapa air hidup itu tidak mengalir dari diri Anda? Jadi, entah Anda ini bukan orang Kristen, berarti ini persoalan yang besar, atau Anda adalah seorang Kristen, berarti air itu seharusnya sudah ada di dalam diri Anda dan harus mengalir sekarang juga - akan mengalir aliran-aliran air hidup, bukannya suatu hari nanti, ketika tidak ada lagi padang gurun di dalam bumi dan langit yang baru.
Padang gurunlah yang membutuhkan air. Orang-orang yang kehausan itu ada di sini dan ada di saat ini juga. Kiranya Allah menjadikan setiap orang Kristen sebagai pancuran air hidup! Di hari-hari yang panas ini, berapa banyak air yang kita perlukan untuk mandi dan minum? Kehidupan ditopang oleh air.
Injil mungkin belum sampai pada kedalaman hati kita
Dan saya sangat tertekan melihat air itu tidak mengalir sebagaimana seharusnya dari dalam diri saya. Ia tidak mengalir sebagaimana mestinya dari dalam diri orang Kristen. Dan penyebabnya adalah: Injil mungkin sudah menjamah pikiran kita akan tetapi belum sampai pada kedalaman hati kita. Ia belum menjamah perut kita, ginjal, paru-paru dan hati kita. Tak peduli bagaimanapun pandangan Anda, air itu memang belum sampai di kedalaman diri kita! Dan saya kira ini adalah persoalan yang sedang melanda kekristenan kita di zaman sekarang ini. Kekristenan telah menjamah pikiran kita. Akal pikiran kita sudah diyakinkan. Di zaman sekarang ini, kita adalah 'orang-orang Kristen intelektual'.
Kekristenan hanya masuk di otak kita. Masih belum masuk ke dalam diri kita, karena jika sudah masuk ke dalam diri kita, maka dari dalam diri kita ini akan mengalir aliran-aliran air hidup. Kekristenan belum menaklukkan kita. Sudahkah air itu menaklukkan Anda sampai pada kedalaman hati Anda? Sudah? Biarlah Allah yang akan meneliti hati saudara hari ini.
Nah, jika Anda hanya 'orang Kristen intelektual', maka Anda tidak akan bisa bertahan lama. Atau, Anda hanya akan menjadi orang Kristen intelektual saja di sepanjang hidup Anda. Anda bisa bahas 'kekristenan intelektual'; Anda tahu semua hal yang harus Anda sampaikan. Dan Anda menyampaikan hal-hal yang benar, Anda mengerjakan hal-hal yang benar, namun semua itu tidak masuk ke dalam hati Anda. Akan tetapi jika Roh Allah menjadikan Anda seorang Kristen yang sejati, maka kekristenan itu akan masuk ke dalam diri Anda, menuju jantung, lambung, perut, jeroan Anda. Dan jika air itu sampai di sana, maka aliran-aliran air hidup akan mulai mengalir.
Belas kasihan mula-mula mengalir dalam tetesan kecil
Berbelas kasihanlah kepada suami atau istri Anda
Satu hal yang perlu kita ingat sebagai penutup khotbah ini: Saat belas kaihan Anda mulai mengalir, ia mungkin masih dalam tetesan yang kecil. Sungai-sungai yang besar tidak langsung besar dari sumbernya. Sungai-sungai yang besar berasal dari hulu sungai yang kecil-kecil. Anda akan terkejut jika Anda telusuri sungai-sungai besar itu sampai ke sumbernya, betapa kecil aliran-aliran yang ada di sana. Berkat aliran-aliran yang kecil itu terciptalah sungai yang besar.
Suatu hari nanti, Anda akan mulai bisa berbelas kasihan kepada salah satu anggota keluarga Anda. Suatu kejutan, namun kadang-kadang saya dapati, belas kasihan sangatlah kurang di dalam hubungan antara suami dan istri. Tahukah Anda akan hal itu? Tahukah Anda mengapa banyak pernikahan hancur? Karena tidak ada belas kasihan. Sang suami tidak menaruh perasaan kepada istri dan demikian pula sebaliknya. Kasih mereka tidak pernah masuk jauh ke dalam sampai ke isi perut mereka, sampai ke kedalaman batin mereka. Tidak ada belas kasihan, dan pernikahan mulai retak. Apakah Anda berbelas kasihan pada suami Anda? Apakah suami Anda berbelas kasihan kepada Anda? Atau, jika Anda adalah si suami, apakah Anda memiliki belas kasihan terhadap istri Anda? Benarkah? Setiap kali Anda tersinggung, setiap kali Anda menunjukkan ketidaksabaran, bukankah itu menunjukkan bahwa belas kasihan Anda sudah tidak ada lagi?
Berbelas kasihanlah kepada anak Anda
Lalu bagaimana dengan anak-anak kita? Kurangnya tindakan disiplin menunjukkan kurangnya belas kasihan. Kelebihan tindakan disiplin juga menunjukkan kurangnya belas kasihan. Jika Anda tidak mendisiplin anak Anda, berarti Anda tidak berbelas kasihan kepadanya. Tidakkah Anda tahu bahwa dengan mendisiplin anak Anda, maka Anda sedang mencegah penderitaan yang mungkin muncul atas mereka di masa depan akibat melakukan hal yang salah? Kurangnya tindakan disiplin menunjukkan kurangnya belas kasihan.
Begitu juga dengan disiplin yang berlebihan: jika Anda berkata kepada anak Anda, "Jangan lakukan ini, jangan lakukan itu, jangan berbuat apa-apa," itu sama saja dengan memborgol anak Anda. Mungkin Anda perlu merantai anak Anda ke tembok. Dengan demikian, dia tidak akan bisa menumpahkan susu, dia tidak bisa menumpahkan teh ke gaun Anda, dan tidak bisa menjatuhkan keju karena dia terikat erat. Anak Anda mungkin akan sangat aman. Ada sebagian orang yang ingin agar anak mereka tidak mengerjakan apa-apa. Cukup duduk diam, menutup mulut, menempelkan plester di mulut mereka, dan Anda akan menikmati ketenangan. Anak yang ideal adalah anak yang diborgol tangannya dan diplester mulutnya! Akan tetapi itu bukanlah belas kasihan.
Anda tidak merasakan apa yang dibutuhkan oleh anak Anda, dan anak itu tahu bahwa Anda tidak berbelas kasihan kepadanya. Tahukah Anda apa akibatnya nanti? Mereka tidak akan mentaati Anda. Banyak perkara ketidaktaatan anak terjadi karena mereka tahu bahwa orang tua mereka tidak memahami mereka. Orang tua mereka tidak berbelas kasihan pada kebutuhan mereka. Akan tetapi janganlah membuat kesalahan dengan beranggapan bahwa belas kasihan itu berarti Anda tidak akan melakukan tindakan disiplin pada si anak. Hal ini juga bukanlah belas kasihan, karena seperti yang telah saya sampaikan, jika Anda tidak mendisiplin si anak, maka anak itu akan melakukan semua hal yang salah dan mencelakai dirinya sendiri secara lebih parah di masa depan nanti. Jika segala sesuatu yang Anda kerjakan didasari oleh belas kasihan, maka semua yang Anda kerjakan akan didasari oleh hikmat.
Demikian pula dengan gereja, Anda harus menjalankan disiplin jemaat. Sebagai orang yang mengajar, dan juga pernah diajar, kami harus menjalankan disiplin berdasarkan belas kasihan. Hati kami sakit, namun kami tahu bahwa kalau kami tidak melakukannya, maka kami akan lebih merusak orang yang terkena disiplin. Oleh karena itu, Anda perlu bertindak di dalam hikmat dan di dalam niat yang benar.
Saya prihatin dengan keluarga-keluarga Kristen karena saya telah sering melihat banyak keluarga di mana suami dan istrinya tidak memiliki belas kasihan lagi antara satu dengan yang lain, dan pernikahan itu berada di tepi jurang kehancuran. Pernikahan itu goyah; menuju perpisahan.
Saat Allah berbicara kepada kita dan menjamah kedalaman batin kita, Dia mengubah hubungan pernikahan kita, Dia mengubah hubungan kita dengan anak-anak kita. Dia mengubah segala-galanya. Dan hal terburuk yang mungkin terjadi adalah jika kita tidak menjadi saluran berkat bagi mereka yang akan binasa karena kita tidak berbelas kasihan. Saya harap Anda bisa melihat arti penting belas kasihan ini. Jika kita ingin menjadi saluran berkat bagi Allah, maka yang paling kita perlukan adalah menjadi serupa dengan Kristus di dalam hal belas kasihan-Nya ini. Kiranya Roh Kudus menjamah dan mengubah cara berpikir kita sehingga ketika kita melihat dunia, kita mulai memiliki belas kasihan.
Saya bersyukur kepada Allah karena saya mulai memiliki belas kasihan. Masih sangat jauh perjalanan yang harus saya tempuh. Saya merasa tertekan melihat jauhnya perjalanan yang harus ditempuh ini. Dibandingkan dengan Yesus, saya bahkan tidak tahu seberapa jauh jarak saya; tidak ada bayangan sama sekali. Tapi saya bersyukur kepada Allah karena sudah ada aliran kecil belas kasihan yang mengalir di hati saya. Memang belum cukup, akan tetapi sudah dimulai. Seperti aliran air hidup yang keluar dari Bait Suci di dalam Yehezkiel 47, yang merupakan gambaran di balik firman dalam Yoh 7:38. Pada sumbernya, aliran itu masih dangkal, mungkin hanya setinggi mata kaki, atau mungkin lutut. Namun semakin jauh, aliran itu menjadi semakin dalam. Kita bersyukur kepada Allah akan aliran ini. Saya berdoa kiranya Allah berbicara kepada kita semua dan mengubah kita, agar Dia menyelamatkan kita dari keegoisan kita supaya di tengah angkatan ini, kita benar-benar menjadi aliran-aliran air hidup.

Tahukah Anda bahwa zaman ini adalah zaman kering dan gersang seperti padang pasir? Kenapa zaman padang pasir? Karena kebanyakan orang berada dalam keadaan kelaparan - mereka hidup tanpa makanan rohani. Masalah di zaman ini adalah, "Di mana kita dapat membeli roti supaya orang banyak dapat makan?" (Yoh. 6.5)
Saat Yesus mengucapkan kata-kata itu, Ia tahu apa yang akan Dia lakukan tetapi Dia hanya mau menguji Filipus. Apa yang Filipus katakan? "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja." Tetapi Andreas berkata, "Di sini terdapat seorang anak yang mempunyai 5 roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?"
Apakah Anda mempunyai roti dan ikan di tanganmu? Ya, tentu saja. Kita mempunyainya. Di mana? Ada berapa jari di tangan Anda? Ada berapa jari kaki di kaki Anda? Lima di setiap tangan dan kaki. Bagaimana dengan indra Anda? Bukankah semua itu adalah lima roti itu? Sekarang, berapa tangan Anda? Dua! Bagaimana dengan kaki? Juga dua!  Begitu juga dengan telinga dan mata Anda. Bukankah semuanya ini merupakan lima roti dan dua ikan Anda? 
Ketika para murid meminta roti dan ikan kepada anak kecil itu, ia bisa saja mempunyai empat respon yang berbeda:
Pertama, ia dapat berkata, "Aku tidak mau memberikan kepadamu. Aku lapar, aku mau memakannya sendiri!" Memang banyak orang yang mempunyai sikap yang demikian. Mereka memakan sendiri lima roti dan dua ikan mereka. Namun setelah memakannya mereka tidak dikenyangkan.
Kedua, anak kecil itu bisa saja berkata, "Aku tidak mau memberikan kepadamu! Saudara dan teman-temanku semuanya ada di sini. Mereka mau makan bersamaku." Sekarang ini banyak juga orang yang bersikap demikian. Tetapi apakah mereka akan dipuaskan? Tidak juga karena makanan itu belum diubah oleh Tuhan.
Ketiga, anak kecil itu bisa saja memanfaatkan situasi dengan berteriak, "Siapa yang mau memakan roti-roti dan ikan-ikan ini? Aku akan menjualnya kepada yang mau membayar tertinggi." Memang di hari ini terdapat banyak orang yang demikian.
Orang yang merasakan dirinya pintar karena pernah sekolah di luar negeri dan karena itu memasang harga tinggi. Saat diminta untuk pelayanan di gereja, mereka akan berkata, "Jika aku dibayar gaji sekian per tahun, aku akan melayani di gereja Anda. Jika tidak, aku tidak akan mau!" Sangat menyedihkan, kita telah mengkomersialisasikan lima roti dan dua ikan kita.
Keempat, anak kecil itu bisa saja berkata, "Roti dan ikan-ku tidak mungkin dapat memberi makan 5000 orang. Setelah aku memakannya, aku akan membuang sisa-sisanya." Memang ada orang yang seperti itu. Mereka menyia-yiakan roti dan ikan yang telah Tuhan anugerahkan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Bukankah ini hal yang sangat menyedihkan?
Tetapi anak kecil itu tidak melakukan semua itu. Melainkan setelah Yesus memintanya, anak kecil itu langsung:
  1. menyerahkan ke tangan Yesus
  2. Yesus memberkatinya
  3. Yesus memecah-mecahnya
  4. Yesus memberikan kepada para murid-Nya
  5. Para murid membagi-bagikannya kepada orang banyak.
Demikian juga, kita adalah roti-roti itu, marilah kita menempatkan diri kita ke dalam tangan Yesus. Jika Anda tidak berada di dalam tangan Yesus, maka Ia tidak akan dapat memberkati kita. Ia juga tidak dapat melindungi kita.
Yesus memecah-mecahkan roti itu, demikian juga manusia lama Anda harus dihancurkan agar Anda dapat menerima kuasa dan kekuatan. Di saat Tuhan mengubah Anda, Anda akan dapat memberi makan kepada banyak orang.
Setelah Anda diubahkan, sebagaimana roti itu diubah, Anda menjadi saluran berkat kepada banyak orang. Akhirnya semua orang dikenyangkan dan bahkan ada sisa yang berlimpahan. Jadi jangan khawatir, saat Anda memberikan diri kepada Tuhan, walaupun Anda sibuk melayani dan memberi tetapi akan tersisa  sukacita yang berkelimpahan bagi Anda, sebagaimana setelah memberikan 5000 orang, masih ada 12 bakul sisa makanan yang dibawa pulang para murid.
Jadi, marilah, berikanlah segalanya bagi Tuhan!